Rumah sang Saksi

RUMAH SANG SAKSI 

Aku berada disebuah perumahan yang damai dan tentram, lingkungan yang hangat tapi juga dingin, tempat yang selalu terlihat damai. setiap harinya dipagi hari para ibu keluar dan pergi untuk membeli bahan masakan yang akan mereka buat untuk suami dan anak mereka, sapaan demi sapaan saling bertautan dengan senyuman yang mengembang, hebatnya selalu ada topik yang mereka bicarakan walau pun pertemuan itu setiap hari.

sementara sang suami, mereka bersiap berkerja atau sang ayah yang membantu menjaga anak mereka. bekerja mencari uang, atau memberi susu pada balita yang mencari ibunya. sungguh harmunois.

setidaknya itu yang dipikirkan oleh para tetangga, hanya aku yang menjadi saksi, atas ketidak jujuran mereka, aku rasa rumah-rumah lain pun memikirkan hal yang sama. 

senyuman sang ibu yang mengembang di pagi hari seketika hilang ketika memasuki pagar, sang suami yang kesal karna anak mereka yang tak berhenti menangis, aku rasa itu adalah sebuah hal yang biasa.

bila aku bisa berbicara, mungkin semua orang akan tau keburukan masing-masing, tak akan ada lagi yang bisa dibanggakan, senyuman tak akan lagi mengembang, bahkan untuk keluar rumah pun aku rasa mereka tak akan sanggup.  

tetapi tidak selalu keburukan yang tersimpan didalamnya, ada banyak rasa yang tak pernah diperlihatkan. rasa senang, sedih, terharu, atau pun marah.

aku selalu bertanya-tanya kenapa mereka menyembunyikan itu semua, seolah pagar rumah adalah pembatas untuk dunia yang berbeda.

suatu ketika pemilikku pergi entah sampai kapan, rumah yang dulu terasa sempit karna barang-barang yang desakan kini terasa begitu kosong dan dingin. aku merasa hampa dan kesepian, aku tak lagi mendengar suara tawa sang anak, teriakan kesal sang ibu, dan gerutuan sang ayah.

hari demi hari yang aku lewati menjadi tidak berarti, dinding rumah mulai kusam, lantai yang berdebu karna tak ada lagi yang membersihkan.

sampai akhirnya ada mobil dengan banyak barang dibelakangnya yang berhenti didepan rumah,  seseorang turun dari dalam mobil dan berbicara padaku, " baiklah rumah, aku akan memilih mu untuk menjadi pelindung keluarga ku, menjadi tempat ternyaman bagi keluarga ku.".

dan akhirnya aku tersadar bahwa aku adalah satu-satunya tempat yang aman bagi mereka tak perlu ada yang disembunyikan dan ditakutkan, dan diluar pagar adalah memang dunia yang berbeda.

Komentar